Selasa, 14 Desember 2010

Sandal Lily


Sandal Lily

Trend fashion akan terus berkembang sepanjang jaman.
Bicara soal
fashion, tak bisa dilepaskan dari produk alas kaki, termasuk sandal.

Sebagai negara berkembang, Indonesia merupakan pangsa pasar potensial
bagi produk-produk fashion luar negeri. Padahal, kebutuhan fashion
produksi dalam negeri tak kalah kualitasnya. Dan itu bisa dipenuhi
oleh pengusaha-pengusaha lokal.

Seperti sandal merek Lily. Siapa yang tak mengenalnya? Sandal ini
adalah salah satu produk buatan Indonesia yang mampu bersaing di
pasaran.

Sandal Lily adalah kerajaan bisnis yang dimiliki keluarga Sasmita.
Awalnya, pasangan Lucas dan Linda Sasmita, menjadi distributor tunggal
sandal Lily di Indonesia.

Bisnis keluarga Sasmita berkembang pesat ketika prinsipal sandal Lily
di Jepang mengalami kebangkrutan di tahun 1968.
Awal rezim Orde Baru (Soeharto-red), adalah berkah bagi para pengusaha keturunan Tionghoa. Pemerintah, kala itu memang memberikan kemudahan untuk membuka jaringan bisnis di negara ini.

Peluang itu tak disia-siakan, keluarga Sasmita langsung memboyong mesin-mesin dan perangkat produksi perusahaan ke Indonesia. Sandal Lily tak lagi
diimpor dari negeri Sakura, tapi diproduksi langsung di Jalan
Mochammad Toha, Mauk, Tangerang.

Sandal Lily diproduksi dengan bendera PT. Panasea. Kini, tongkat
kepemimpinan diserahkan kepada putra semata wayang pasangan Lucas dan
Linda Sasmita, Hendrik Sasmita.

Sandal yang sempat booming di tahun 70-an, kini mulai tak terdengar
gaungnya. Dari awal diproduksi hingga sekarang, model sandal Lily tak
pernah mengalami perubahan. Tak heran, sandal ini dikenal sangat
konservatif.  Sandal Lily memang mengkhususkan pada pasar usia 40
tahun ke atas. Ciri khas inilah yang menjadikan sandal ini masih
banyak diburu orang.

Tahun 1970 hingga 1980-an, sandal Lily mengalami masa kejayaannya.
Tiap bulannya, PT. Panasea bisa memproduksi puluhan juta pasang
sandal. Jaman yang tak lagi ramah membuat namanya terus tenggelam.
Dari tahun ke tahun, angka produksi sandal karet ini terus menurun.
Keadaan itu juga diperparah oleh kenaikan harga karet, sebagai bahan
baku utama pembuatan sandal Lily.
Belum lagi, serbuan sandal-sandal
murah dari Cina.

Kini sandal Lily hanya mengandalkan konsumen fanatiknya.

Proses Produksi

Proses pembuatan sandal Lily masih tetap menggunakan mesin yang dibeli
oleh keluarga Sasmita langsung dari Jepang. Mesin sandal Lily tak
pernah tergantikan, hanya para pekerjanya saja yang mengalami
regenerasi.

Pabrik di Mauk, Tangerang, hanya dijadikan proses awal produksi. Di
sini, pekerja hanya membuat bagian atas dan bawah sandal.

Bahan baku utama pembuatan sandal adalah bijih  plastik atau polymer
PVC. Warna bijih plastik tetap sama hingga sekarang. Dominan warna
sandal Lily adalah: merah, biru, kuning keemasan, coklat dan hitam.

Bijih plastik dipindahkan ke alat penampungan pada mesin injeksi, dan
langsung dicairkan menggunakan panas listrik. Bijih plastik yang sudah
mencair ditembakkan ke dalam cetakan. Setelah 46 menit, bagian atas
sandal terbentuk.

Bagian atas sandal yang telah terbentuk dipindahkan ke bagian trimming
dan quality control. Para pekerja dengan silet membersihkan sisa-sisa
plastik di bagian atas sandal.

Pekerja juga membuat raw material rubber dan eva, atau lebih dikenal
sebagai bagian sol. Campuran tersebut dicairkan dan dipress selama 25
menit. Bahan yang sudah jadi itu dipindahkan dan didinginkan. Proses
ini adalah untuk membentuk material bagian bawah sandal.

Penyatuan bagian sandal tidak bisa dilakukan di Mauk, Tangerang.
Material sandal dikirim ke pabrik di Teluk Gong, Jakarta Utara.

Di sini, para pekerja hanya melakukan proses assembeling. Penyatuan
bagian atas dan bawah sandal yang telah terbentuk.

Campuran karet dan eva dipotong menjadi dua bagian. Pengerjaannya tak
lagi manual, tapi sudah menggunakan mesin pemotong. Inilah yang
disebut dengan bagian sol.

Potongan sol diberi lem dan dijalankan menuju mesin pemanas. Setelah
merekat sempurna, bagian sol digerinda hingga terbentuk sempurna.

Penyatuan bagian atas dan bawah sandal Lily menggunakan lem dan masih
mengandalkan tenaga para pekerjanya. Dibutuhkan ketelitian dalam
proses ini.

Setelah selesai, sandal Lily yang sudah terbentuk masuk ke bagian
packing. Pengemasannya pun masih menggunakan plastik sederhana.

Butuh Orang Muda

Sebagai penerus usaha keluarga, Hendrik Sasmita mengakui ekuitas merek
sandal Lily tak sekuat dulu lagi. Kalah popular dari merek-merek baru
yang jorjoran beriklan. Volume produksi dan omsetnya jauh berkurang.

Sandal Lily sepertinya butuh orang muda yang bisa mengembangkan Lily
sesuai perkembangan jaman. Memang tak mudah, tapi gebrakan bisa
membuat nama Lily kembali terdengar.

Tak mudah lagi menjumpai sandal Lily di toko-toko sandal. Untuk
menjaga produk di pasaran, sandal Lily tetap masuk pasar Jakarta. Jadi
bagi para pecinta sandal kuno ini tak perlu khawatir. Untuk
mendapatkannya, kita hanya perlu menjelajah ke toko Hero di Pasar
Pagi, Jakarta Barat.

Memang, kita tak lagi banyak menjumpai orang menggunakan sandal Lily.
Mungkin hanya orang yang fanatik yang masih bertahan, lantaran
kualitasnya memang lebih kuat dibandingkan sandal produk baru.

Sandal Lily sudah mulai tergerus jaman. Padahal, majunya bisnis alas
kaki di tanah air secara tak langsung karena peran mereka.
Nasib
mereka kini seperti warna sandal lama yang semakin pudar. Modernisasi
jelas meminggirkan mereka.

14 komentar:

  1. Tulisan yang keren! mohon ijin saya link

    BalasHapus
  2. Silahkan mas, semoga tulisannya bermanfaat

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. bro kiting nih.. wah gue suka banget nih sendal sampe sekarang lom dapet atupun. ijin ngeshare bro

    BalasHapus
  5. sandal lily adalah sandal jaman saya kanak2 th 1973, sampe waktu itu aku hnyut di bantaran sungai besar. Masih dalam gegaman tangan saya. Walau sampai adik saya meninggal akibat bencana tsb. Mengesankan.i love u sandal lily

    BalasHapus
  6. Alamat pabrik sama nomer kontaknya....

    BalasHapus
  7. Alamat pabrik sama nomer kontaknya....

    BalasHapus
  8. Alamat pabrik sama nomer kontaknya....

    BalasHapus
  9. Alamat pabrik sama nomer kontaknya....

    BalasHapus
  10. numpang tny.. toko hero pasar pagi, jak bar.. itu alamatny di mana yah.. ad no teLp ga.. trm ksh sbLmny..

    BalasHapus